Perjalanan Spiritual : Ramadhan Karim Damai dan Toleran

Perjalanan Spiritual : Ramadhan Karim Damai dan Toleran

Makna yang tersirat pada Bulan Ramadhan ialah bagaimana meningkatkan iman pada masing-masing Muslim. Nilai luhur akan setiap perjalanan sejarah yang mewarnainya selalu memberi teduh, sejuk dan bahagia. Kareem yang berarti murah hati, yang tersemat dalam setiap kata di belakang Ramadhan. Keyword itu menjadi alasan penting dalam menambah value spiritual pada tataran dimana ummat krisis dengan akhlak. Budi pekerti telah hilang dan tergantikan dengan rasio tanpa bermoral hingga berakibat pada aksi-aksi abai humanitas, bermain hakim sendiri, benar sendiri, dan merujuk pada kebenaran teologis/kalam/akidah yang diperbandingkan. Ketiadaan spiritual sense yang sangat mendalam pada sebuah lokus dimana kebenaran hanya disandarkan pada kubu yang mayoritas. Ini merupakan sebuah fenomena yang terjadi dengan seringnya anggapan individu terlalu interpret the group truth doctrine, sehingga kelompok lain selalu salah dalam potretnya.

Bertolak dari preface diatas, Ramadhan menjadi bulan dalam sebuah konstelasi ukhuwwah islamiyah yang harus terus dibumikan. Hubungan individu, kelompok, bermasyarakat harus bisa dipenuhi dengan nilai keindahan, persaudraan, dan persahabatan. Gillin dalam Interaksi Sosialnya terdapat dua pandangan dalam membangun pranata sosial, yakni assosiatif dan dissosiatif. Bagaimana assosiatif bisa menyoroti bahwa Ramadhan sebagai momen bersosial keagamaan dalam ritus budaya Islam setiap tahunnya, menjadi sebuah momen dalam merajut kebersamaan, saling berasosiasi, berdialog untuk mencipta iklim sosial keagamaan yang indah.

Ramadhan sebagai bulan yang penuh dengan keberkahan, setiap waktu dalam harinya dihitung banyak sisi pahala. Ramadhan jangan hanya menjadi sebuah waktu di mana untuk bermalas-malasan, tidur-tiduran dan tidak menghasilkan kegiatan apapun dalam kesehariannya. Bulan Ramadhan harus juga bisa dimaknai sebagai kunci membangun jati diri yang kokoh dengan keimanan. Kurang lebih 30 hari dihadapkan dengan menahan nafsu perut, mata dan segala hal yang membuat dosa, meskipun berat, namun akan tetap dijalani karena itu sebagai proses membangun akhlak dan peningkatan keimanan.

Bulan Ramadhan datang membawa serangkaian pahala yang akan dibagikan oleh semua umat. Esensi dari setiap kegiatan pada bulan Ramadhan bernuansa pahala dan keberkahan. Ramadhan bisa menjadi sebuah media untuk silaturahmi sosial, misalnya berbagi makanan, takjil, baik di masjid, dipinggir jalan, itu sebuah nilai spiritual-sosial yang bernilai berharga. Apalagi ada kelompok non-Muslim yang ikutserta dalam sebuah perayaan Ramadhan, terutama puasa dan hari raya. Mereka senantiasa antusias untuk membangun rumpun beragama dengan keberbedaan keyakinan tersebut, akan tetapi tetap satu tujuan yakni melahirkan hubungan yang harmonis dan damai dalam hidup berdampingan.

Tidak jauh pada konsep ukhuwwah dalam Zuhairi Misrawi, ia menguraikan setidaknya ada empat konsepsi dasar dalam mengikat persaudraan, antara lain al-ukhuwwah al-Qabiliyah, al-ukhuwwah al-Islamiyah, al-ukhuwwah al-Imaniyah, dan al-ukhuwwah al-Insaniyah. Keempat konsep persaudaraan tersebut diikat oleh tali sebagai simpulnya, tali tersebut ialah ketaqwaan. Didalam ketaqwaan terdapat nilai kejujuran, rendah hati, sopan santun dan toleransi. Ikatan simpul tersebut menjadi tali yang harus bisa saling memelihara. Dan yang paling mendasar dalam ungkapannya ialah persaudaraan dalam suku, yang merupakan menjadi pijakan dasar dalam membangun ukhuwwah-ukhuwwah lainnya.

Secara tinjauan ilmiahnya bahwa Ramadhan bisa menjadi serangkaian konsep, metode sebuah pendekatan dalam pengkajian untuk mendekatkan diri secara sosial keagamaan dengan ritus budaya Islam kepada Tuhan. Bulan Ramadhan sebagai bulan umat Islam untuk menempa diri, meningkatkan keimanan pribadi maupun kelompok. Aplikasi dari bulan Ramadhan yang dijalankan selama 1 bulan, diharapkan bisa menjadi sebuah sumbu untuk meningkatkan persaudaraan Islamiyah dengan sesama atau lebih yakni dengan kelompok umat agama lain. Penekanannya dimana, yakni pada serangkaian kegiatan sosial dengan berbagai versi, misalnya tadi berbagi takjil, makanan yang semua itu atas dasar iman dan sosial, secara tidak langsung akan menumbuhkan bibit-bibit cinta persaudaraan, baik sesama umat maupun kelompok berbeda.

Ukhuwwah Islamiyah terlandasi dalam al-Quran, misalnya “Innamal mu’minun ikhwan” yang artinya sesungguhnya mereka yang beriman itu adalah bersaudara. (QS. Al-Hujurat, 49: 10). Di dalam hadits Nabi di jelaskan “Matsal al-mu’minin fi tawaddihim watarahumihim kamatsal al-jasad idza isytaka minhu udwun tada’a sairu al-jasadi bi al-sahari wa al-huma”. Dalam hadits Nabi diumpamakan kuatnya persaudaraan antara orang-orang beriman. Misalnya, Nabi menganalogikan persaudaraan antara orang-orang yang beriman itu bagaikan organ tubuh; bila salah satu organ mengalami keluhan, maka organ yang lain juga potensial terserang demam. (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Jelas dalam hal ini, jadikan Bulan Ramadhan sebagai bulan toleransi amal sosial. Dari setiap tingkah laku, sandarkan atas nama Tuhan untuk kebaikan. Satu daerah misalnya di Indonesia, tidak banyak yang tau kalau daerah itu terdapat kelompok agama yang beragam. Namun, mereka hidup damai, toleransi, karena semua diikat dengan jiwa, nilai agama dan impelementasi sosial-religi, agama telah mengajarkan konsep toleransi, termasuk agama Islam. Ukhuwwah Islamiyah pada bulan Ramadhan, ialah salah satu cara bagaimana peningkatan jiwa sosial dan spiritual bisa bersatu, ditempa dalam satu bulan, baik puasa, sholat terawih, tadarus dan kegiatan Islami lainnya. Lulus dari ujian 1 bulan, diharapkan bisa termanifestasikan dalam setiap ucap dan laku sebagai Muslim yang berbudi dengan menyikapi setiap keadaan dengan kedamaian, terutama bagaimana membangun hubungan yang indah dengan berbagai kelompok umat agama.

Oleh: Ahmad Zainuri (Duta Damai Jawa Timur)

Tinggalkan Komentar