Memandang Keniscayaan

Memandang Keniscayaan

Berbeda adalah sebuah keniscaayaan harus dihadapi dan tak bisa dipungkiri. Jangankan perbedaan agama, kembar identik sekalipun pasti memiliki perbedaan diantara keduanya. Dalam Q.S Al-Hujurat (49) ayat 13 sudah sangat jelas,  “Wahai manusia! Sungguh. Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal ….” Sudah dijelaskan untuk saling mengenal, bukan membenci.

Ironisnya, pada tanggal 8/8/2020 penyerangan terhadap kelompok Syiah terjadi dengan dalih ‘kafir’. Akibat kejadian ini sejumlah keluarga mengalami luka. Sebelumnya, tragedi serupa  yakni penyerangan dan pengusiran kelompok Syiah terjadi di Kabupaten Sampang dan sekarang terjadi di Rusunawa Puspa Agro Sidoarjo.

Tidak hanya Syiah yang mengalami persekusi, dilansir tirto.id 23/03/2018“Pada 23 Mei 2016, Masjid Ahmadiyah di Kendal, dirusak oleh warga. Warga mengecam Ahmadiyah sebagai sekte sesat menolak pembangunan masjid.”

Terjadinya peristiwa diatas, menunjukkan bahwa kebebasan berkeyakinan masih tidak ada. Pandangan tentang perbedaan adalah keniscayaan yang nihil terjadi, bahkan sebagian kelompok mengharuskan memiliki keyakinan dan pandangan yang sama seperti mereka.

Masih banyak kejadian serupa di lingkungan masyarakat homogen, anak-anak yang tidak mengerti apapun terkena imbasnya. Mereka mengikuti apa yang diajarkan oleh orang tuanya, seperti hal nya perintah, “Jangan dekat temanmu itu, nanti kamu ketularan ‘sesat’ jadi orang nggak baik.”  

Berbeda pandangan dan apa yang dipunya juga mengakibatkan bullying pada anak. Dalam Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dari tahun 2011 sampai 2019 selama 9 tahun, tercatat ada 37.381 pengaduan kekerasan anak baik pendidikan maupun sosial media, laporannya masih terus meningkat. Oleh karena itu, edukasi toleransi sejak dini sangat dibutuhkan, bahwa kehidupan di dunia tidak hanya ditempati oleh kelompok atau agama yang mereka anut.

Penulis menyoroti bagaimana sesama manusia dan khususnya sesama muslim. Mengingat Rasulullah sebagai suri tauladan umat, mencontohkan bagaimana bersikap antara manusia satu dengan lainnya menggunakan sifat rahman (pengasih) dan rahim (penyayang). Namun, perilaku yang ditampakkan tidak mencerminkan sama sekali ajaran Rasulullah Saw.

Pantaskah kita mengaku umat Rasulullah Saw tatkala tidak mengamalkan apa yang diajarkan? Bisa saja kita memperingati orang lain tentang toleransi serta bersikap ramah, sedangkan kita sendiri melakukan hal itu. Bisa juga ketika kita mengkafirkan dan menyesatkan kelompok lain, justru kita sendiri  menjadi sesat akibat perbuatan.

Dibutuhkan peran orangtua, saudara, dan masyarakat sekitar untuk membangun suasana saling menghargai dan memahami, baik antar individu atau kelompok. Saling mengingatkan jika terdapat perkataan atau tindakan yang menjelekkan orang lain. Apalagi menyalahkan keyakinan orang sebelum mengetahui apa yang diyakini.  

 Tabayyun  sebelum memutuskan perkara sangat diperlukan, untuk mengetahui apakah perbuatan yang dilakukan benar atau salah. Tidak etis rasanya kalau menyematkan label ‘sesat’ dan ‘kafir’ sebelum mendengarkan keyakinan yang mereka anut. Jikalau terjadi perbedaan pandangan, kita harus menghargai dan mendukung penuh. Sebab, tidak ada paksaan dalam beragama, semua diyakini dalam hati.

Konflik pasti akan terjadi seiring berjalannya waktu. Namun, bagaimana kita menghadapi konflik tersebut dengan penuh kasih sayang dan kepala dingin. Apapun masalahnya bisa diselesaikan secara baik-baik, dengan syarat mencegah emosi.

Quraish shihab menjelaskan, “Emosi agama harus dicegah dan dialihkan menjadi cinta yang menjadi inti ajaran agama. Dengan cara itu, setiap orang akan dapat berhubungan secara harmonis di tengah perbedaan yang ada.” Niscaya semua orang berprilaku dengan cinta, akan tercipta sikap kasih sayang sesama manusia.

Kita perlu menanamkan bahwa setiap orang atau kelompok di dunia berbeda, perlahan akan mengubah mindset  diri kita. Tidak memaksakan kehendak individu atau kelompok untuk mengikuti ajaran tertentu, karena setiap individu memiliki kebebasan memilih kepercayaan atas apa yang diyakini.

Berbeda itu indah, bayangkan saja jika di dunia ini hanya ada satu warna, pasti akan terasa hambar dan membosankan. Begitu juga dengan kehidupan manusia,  terciptanya perbedaan akan menumbuhkan keindahan bersikap.

Manusia diberi akal untuk berpikir, menentukan pilihan yang bijak dalam bertindak. Menjadi manusia dan memanusiakan manusia menjadi kewajiban kita sebagai umat muslim. Buang segala prasangaka, munculkan sikap bertanya dan klarifikasi.

Penulis: Akbar Trio Mashuri (Duta Damai Jawa Timur)

Tinggalkan Komentar