Deradikalisasi Pendidikan Melalui Organisasi Ekstra Kampus

Deradikalisasi Pendidikan Melalui Organisasi Ekstra Kampus

Mahasiswa baru memasuki ajaran baru 2019 diseluruh kampus Indonesia. Mahasiswa akan menjalani tranformasi pendidikan yang berbeda dengan masa sekolah menengah. Pada tahap awal inilah biasanya mahasiswa memilih organisasi untuk mengisi aktivitas lainnya selain kuliah. Mahasiswa adalah agent of change penerus bangsa, maka dari itu peran organisasi ekstra sangat diperlukan dalam memberikan wacana yang representatif bagi mahasiswa baru untuk menangkal gerakan radikalisme yang mulai merambah di dunia pendidikan.

Kampus menjadi tempat pertemuan dari mahasiswa yang tidak hanya berasal dari satu daerah. Begitupula organisasi ekstra, terdapat mahasiswa yang berasal dari semua wilayah. Artinya, selain untuk belajar berkembang menjadi aktivis, mahasiswa juga akan belajar kemajemukan dalam lingkar kecil disebuah organisasi. Disini mahasiswa akan dilatih untuk saling menghargai dan bekerjasama dalam menjaga nama baik organisasinya. Terdapat banyak organisasi ekstra kampus baik didalam maupun diluar kampus. Mahasiswa baru diharapkan memilih organisasi dengan hati-hati, agar tidak salah masuk organisasi yang mengusung radikalisme dan takfiri seperti HTI dan golongan mereka yang mengusung khilafah Indonesia. 

Gerakan deradikalisasi melalui organisasi ekstra kampus sangat diperlukan. Organisasi seperti PMII, IPNU harus kuat memberikan doktrin dalam menjaga mahasiswa baru agar tidak kecolongan mereka yang ingin menguasai dunia pendidikan dengan paham radikalisme dan takfiri. Seperti hal yang dilakukan oleh DCM (Dewan Cendiakiawan Muslim), merupakan satu wadah untuk mengenalkan Islam yang sejati kepada non muslim sehingga tidak terjadi persepsi yang salah terhadap komunitas muslim. PMII, IPNU ataupun IPPNU harus menggalang cara agar mahasiswa baru tertarik masuk kedalamnya dan memberikan pemahaman agar tidak masuk dalam organisasi yang salah.

Meskipun secara hukum HTI sudah dilarang di Indonesia, namun gerakan sayap-sayapnya masih bisa dilihat seperti Gema “Gerakan Mahasiswa Pembebasan” bergerilya disetiap kampus untuk merekrut anggota baru. Cara-cara yang bisa dilakukan bisa dengan melakukan palatihan seminar-seminar ataupun menyisipkan paham melalui lembaga lain yang berafiliasi dengan HTI. Organisasi ekstra kampus yang bersebrangan dengan HTI harus peka untuk memberikan pengetahuan lebih dan memberikan tandingan kegiatan yang sifatnya lebih mengedepankan toleransi dalam bersosial dan agama. Agar menciptakan kondisi yang kondusif, tidak sembrono dalam mengambil tindakan yang gampang mengkafirkan orang lain. Seperti berita beberapa hari ini, soal video seseorang ustad yang terkenal. Ia mengeluarkan pendapatnya mengenai nontonton drama Korea bagian dari kafir. Ini hanya melihat film dramanya, bagaimana kalau melihat orangnya langsung? Apakah akan keluar kata kafir dari mulut kita kepada orang lain?

Paham takfiri telah masuk dalam tatanan sosial yang paling dalam di dunia pendidikan. Maka dari itu, pembelajaran dini kepada mahasiwa baru amat sangat diperlukan guna meredupkan faham radikalime melalui dunia pendidikan. Organisasi ekstra kampus yang sudah eksis seperti PMII ataupun yang lainnya sangat perlu untuk menjaga kwalitas para kadernya untuk menciptakan penggerak yang tidak gampang terpengaruh paham takfiri. Dalam hal ini bisa diupayakan melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga yang berafiliasi sama dengan tujuan membendung faham radikalisme.

  Upaya Deradikalisasi Mahasiswa Baru 

Mahasiswa baru merupakan sasaran empuk kelompok yang menyebarkan faham radikalisme untuk dijadikan anggotanya. Tercatat tidak hanya kampus umum, tapi juga perguruan tinggi agama tidak lepas dari operasi mereka. Oleh karena itu, untuk membendung gerakan tersebut perlu pendidikan dini melalui organisasi ekstra kampus agar saling bersinergi dengan lembaga kampus guna membatasi gerakan mereka yang ingin merekrut anggota baru yang mengatas namakan agama dengan menyebar faham takfiri. 

  Menjaga relasi antara organisasi ekstra kampus dengan para dosen merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ruang gerak mereka. Dosen sebagai pengampu matakuliah ataupun sebagai pengganti orang tua diharapkan mampu mengarahkan mahasiswanya untuk memilih organisasi yang tepat sesuai faham koridor asas agama dan negara Indonesia —Pancasila—. Dengan begitu, mahasiswa baru bisa dimobilisasi untuk ikut organisasi ekstra yang jelas latar belakangnya seperti PMII, IPNU atau lainnya yang selaras dengan asas keagamaan dan ke Indonesiaan.

Komunikasi adalah alat yang sangat penting untuk menangkal faham radikalisme. Mengadakan seminar dan dialog merupakan cara untuk memberikan wacana-wacana baru kepada para mahasiwa baru agar tidak salah dalam mengikuti organisasi. Dengan mengenalkan Islam yang ramah bukan yang suka marah-marah melalui seminar dan dilanjutkan dengan dialog akan menjadi pintu agar mahasiswa baru tidak masuk dalam organisasi seperti HTI di setiap kampus. 

Selain seminar, pelatihan secara langsung amatlah penting dan akan lebih mudah memberikan pemahaman kepada mahasiswa baru. Adanya pelatihan mengenai ke-Indonesia dengan penjelasan kemajemukan serta memberikan pengetahuan ke-Islaman yang mengedepankan perdamian seperti yang telah diajarkan oleh nabi diharapkan mampu memberikan kontribusi keilmuan dan sikap yang toleran kepada masyarakat secara umum dan khususnya mengurangi faham takfiri dilingkungan pendidikan.

Peran organisasi ektra kampus sangatlah penting dalam memobilisasi mahasiswa baru agar terhindar dari faham radikalisme. Mahasiswa yang masuk diperguruan tinggi memiliki latar belakang yang berbeda, maka dari itu organisasi seperti PMII, IPNU dan lainnya perlu menguatkan kembali wacana ke Indonesian dan keagamaan agar mereka yang akan bergelut di dunia pendidikan tidak salah jurang dalam menuntut ilmu. Pada akhirnya mereka akan mengabdikan ilmunya baik di masyarakat ataupun lembaga dengan ramah dan santun.


Penulis: Aris Lukman Hakim
Sumber gambar: banjarmasin.tribunnews.com

Tinggalkan Komentar