Ramadhan dan Tradisi Literasi Umat Islam

Ramadhan dan Tradisi Literasi Umat Islam

Banyak orang menganggap bahwa bulan puasa hanyalah bulan untuk meningkatkan ibadah yang sifatnya ubudiyah. Puasa juga kerap kali diartikan menahan lapar, haus, dan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Sehingga, tradisi Ramadhan hanyalah peristiwa yang berulang seputar mencari takjil, buka bersama, tadarus, dan salat tarawih.

Bulan suci Ramadhan kali ini menjadi sangat spesial. Dalam kurun waktu yang sama terdapat peringatan hari besar lainnya, diantaranya: hari kartini, bumi, dan buku. Tiga momentum besar pada bulan yang penuh berkah ini.

Dari momentum-momentum besar di bulan yang mulia itu, apakah kita hanya bersandar dan berselonjoran di ranjang dalam menyikapi bulan puasa ini? Tentunya, orang beruntung lah yang dapat memanfaatkan bulan suci ini dengan kegiatan yang positif. Kegiatan yang manfaatnya tidak hanya dirasakan diri sendiri, tapi dirasakan orang lain.

Ingatkah kita semua pada peristiwa besar di bulan Ramadhan? Pada bulan ini Al-Qur’an diturunkan ke bumi, yang dikenal dengan “Nuzulul Qur’an”. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. adalah surat Al-Alaq ayat 1-5. Ayat pertama yang berbunyi ‘Iqra’ itulah yang menyergap nabi saat beruzlah di gua hira. Wahyu pertama yang diturunkan kepada nabi bukan untuk memerintahkan salat atau lainnya, melainkan untuk membaca. Perintah membaca kepada orang yang tidak bisa membaca.

Dari sini awal mula tradisi literasi islam, yang ditandai turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad. Wahyu yang memiliki perintah untuk membaca. Meskipun, kadang ada beberapa orang yang menanyakan sosok nabi yang ummi atau tidak bisa membaca atau buta huruf.

Menurut Quraish Shihab, dulu alat tulis menulis itu langka, maka salah satu cara adalah hafalan. Dahulu orang pandai menulis itu aib, karena ingatan manusia yang dianggap terbatas. Namun untuk ukuran tersebut terbilang sangat hebat, karena pandai mengingat dan menghafal. Seperti fenomena saat ini, apa orang yang bisa membuat audio visual lantas bisa membodohkan orang yang membaca atau menulis? Tentu tidak kan. Semua adalah alat untuk bisa membaca.

Memang, pada awal wahyu itu turun, kata ‘iqra’ diulang sebanyak tiga kali. Bacalah, bacalah, dan bacalah. “Saya bukan orang yang pandai membaca. Saya tidak bisa membaca. Apa yang mesti saya baca Wahai Jibril,” kata Muhammad. Jibril pun melanjutkan dengan kalimat berikutnya, ‘bismirabbika al-ladzi khalaq’ hingga ayat kelima.

Berdasarkan tafsir dari KH. Quraish Shihab, iqra berasal dari kata qaraa, yang artinya membaca, menghimpun, meneliti, mengamati dan sebagainya. Syaratnya membaca disini adalah bismirabbika al-ladzi khalaq yang berarti demi Tuhanmu. Seakan-akan kita disuruh membaca bukan untuk mencapai sesuatu tapi untuk mencapai ridha Allah Swt. Itulah dalam pandangan islam sesuatu yang dilakukan dengan ridha Allah maka akan menui kebaikan berlimpah.

Di awal wahyu pertama ini Allah juga memperkenalkan dirinya dengan ciptaannya denggan ‘alladzi Khalaq’ dan memperkenalkan sifatnya yaitu ‘al-Akrom’. Bacalah, bismirobbik, yang mencipta, tidak disebut apa yang dicipta. Maka apa saja bacalah. Salah satu yg luar biasa dari ciptaannya yaitu manusia, khalaqal insaana min alaq.

Alaq berarti segumpal darah, atau yang berdempet di dinding rahim. Kalau penafsiran ini kita terima ini adalah isyarat ilmiah Al-Qur’an yang belum diketahui orang dalam masa itu. Ada lagi ‘Alaq’ dalam arti sesuatu yang bergantung karena manusia ini tidak bisa berdiri sendiri, selalu bergantung pada yang lain, dan ketergantungan yang besar adalah kepada Allah Swt.

Kata “Iqra” memiliki beberapa makna, antara lain: Pertama, sebagai perintah membaca, menghimpun, meneliti, mengamati, itulah yang menjadikan makna iqra sangat luas; Kedua, objek yang dibacanya tidak disebut, sehingga bersifat umum; Ketiga, kata qaraa atau iqra digunakan dalam Al-Qur’an untuk segala bacaan, baik bacaan itu suci atau tidak suci, jadi bacaan apa saja, itu sebabnya kalau Al-Qur’an dari sisi lain dikatakan “bacalah apa yang diwahyukan kepadamu oleh tuhanmu,” jadi sesuatu yang suci kalau dirawat. Tapi kalau qiroah ‘faqrou fatayassaru minal quran’ bisa juga kitab amalan kita yang berisi kedurhakaan dan lain-lain itu juga diperintahkan untuk dibaca, “iqra kitabaka”. Sehingga perintah untuk membaca, bermakna secara luas dengan membaca apa saja selama itu mengandung kemaslahatan bagi umat.

Selain itu, Syekh Abdul Halim Mahmud pemimpin Al Azhar berpendapat bahwa sebenarnya “iqra” adalah contoh bacalah karena demi tuhanmu, tapi bukan hanya baca. Tapi, bergeraklah demi karena tuhanmu, bekerjalah demi karena tuhanmu, duduklah demi karena tuhanmu. Segala aktivitas yang dilakukan hanya demi karena Allah, maka akan membawa kemaslahatan yang sangat besar.

Dalam wahyu pertama juga disebutkan “yang mengajar dengan pena dan mengajar manusia apa yang tidak diketahui”. Ini berarti pengajaran tuhan melalui dua jalan- dengan alat atau tanpa alat. Apa yg tanpa alat? Wahyu, mimpi, ilmu laduni- itu bisa diibaratkan komet helly, dia datang 70 tahun sekali. Ada ilmu yang diajarkan tuhan tanpa anda pelajari.

Kamu bisa memperoleh informasi/pengetahuan walaupun kamu tidak mengusahakannya. Itulah dalam islam perolehan ilmu ada yang diusahakan ada pula yang anugerah Allah Swt. Kita bisa memperoleh pengetahuan dari anugerah Allah. Anugrah itu diberikan kepada orang yang mendekatkan diri kepada Allah.

Perintah membaca ini buat orang yg tidak pandai membaca. Orang tidak pandai membaca disuruh membaca. Menarik sekali bahwa bukti kebenaran nabi ini adalah kitab/ Al-Qur’an. Al-Qur’an inilah menjadi mukjizat paling besar yang diberikan kepada Nabi Muhammad.

Sejak dini islam melalui Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa jika ingin mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat jalannya adalah membaca. Kalau anda tidak membaca maka anda tidak dinilai sebagai manusia. Jika Anda akan membaca maka Anda adalah manusia yang maslahah. Sebagaimana dalam firman lain; “barang siapa yang menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat maka dengan ilmu”.

Ilmu itu diperoleh dari membaca, menulis, menghimpun, mengamati, dan meneliti. Islam adalah agama ilmu, sedari awal dibawa oleh Nabi Muhammad dengan ilmu. Buktinya adalah dengan dimukjizatkannya Al-Qur’an, kitab pedoman hidup sepanjang zaman dalam mencari keberkahan ilmu.

Oleh karena itu, semangat islam adalah semangat ilmu, semangat membaca, semangat literasi. Sebagaimana pada masa kejayaan peradaban islam, ilmu sangat digandrungi dan diperdebatkan oleh pengikutnya. Maka, pada abad keemasan islam kita kenal Imam Ghazali, Ibnu Sina, Al Farabi, Al Kindi, Khawarizmi dan lainnya, dengan karya besarnya.

Bahkan, Imam Ghazali pun juga pernah mengatakan, “Jika kamu bukan anak raja atau ulama besar, maka menulislah.” Menulis adalah giat literasi yang memadu pada ajaran islam. Sehingga, sudah saatnya islam memasuki kembali gerbang kejayaan literasi dan ilmu pengetahuan.

Oleh: Al Muiz Liddinillah (Duta Damai Jawa Timur)

Tinggalkan Komentar