Peran Aktif Generasi Milenial Menjaga Identitas Bangsa Indonesia

Peran Aktif Generasi Milenial Menjaga Identitas Bangsa Indonesia

Berbicara tentang Bangsa Indonesia, Indonesia adalah negara yang berdaulat dan menjunjung tinggi hukum yang berlaku. Indonesia merupakan negara yang kultural (beragam) dari segi budaya, agama, bahasa, dan suku. Selain itu, Indonesia dijuluki sebagai negara agraris (penghasil padi) dan sangat familiar dengan istilah negara maritim. Artinya secara geografis Indonesia memiliki daerah teritorial perairan dan laut yang sangat luas melebihi luas daratan.

Banyaknya perbedaan sudut pandang dan latar belakang Bangsa Indonesia menghasilkan sebuah pedoman yang unik dan hanya Indoensia yang memiliki yaitu Pancasila dan Bhinneka tunggal Ika. Singkatnya, Pancasila (panca berarti lima, sila berarti dasar) jika disatukan Pancasila memiliki 5 sila dan Bhinneka tunggal Ika dilambangkan dengan burung Garuda yang dituangkan dalam makna yang berbunyi “Berbeda-beda tetapi tetap satu” Sebagai warga negara Indonesia, kita dituntut bukan hanya sekedar tau akan Pancasila namun juga memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhir-akhir ini ada beberapa isu yang menarik perhatian, salah satunya dikutip dari nasional.kompas.com yaitu “Megawati Soekarnoputri pertanyaakan Sumbangsih Milenial untuk menjaga Identitas Bangsa Indonesia”.

Dalam kutipan tersebut menjelaskan bahwa Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDIP mengatakan “Saya bilang ke Presiden, jangan dimanja. Dibilang generasi kita adalah generasi milenial. Apa sumbangsihnya generasi milenial yang sudah tahu teknologi seperti kita bisa viral tanpa bertatap langsung? Apa sumbangsih kalian untuk bangsa dan negara ini?” ucap Megawati.

Berbeda dengan ibunda, Ketua DPR RI Puan Maharani menilai Generasi Z atau para remaja berperan penting bagi keberlangsungan bangsa Indonesia di masa depan karena diyakini dapat mengubah Indonesia.”Dalam alfabet, huruf Z dianggap huruf yang terakhir. Tetapi, saya justru melihat generasi Z sebagai titik awal perjalanan baru bangsa Indonesia,” ujar Puan dalam keterangannya di Jakarta.

Generasi Milenial adalah generasi muda zaman now, kenapa zaman now? karena Generasi Milenial lahir ketika teknologi berkembang. Hal ini dipengaruhi oleh arus globalisasi yang semakin cepat dan berhasil menciptakan ruang untuk berkomunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung hingga mencapai ruang tak terbatas. Isu tersebut sangat menyoroti generasi Milenial mengingat banyaknya kasus demo yang melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi baik swasta maupun negeri.

Jika dalam berita tersebut yang Ibu Megawati mempertanyakan “Apa sumbangsih Milenial untuk menjaga Identitas Bangsa”. Jika peran generasi Milenial saat ini dinilai kurang signifikan. Namun, hampir 90% dari kalangan Mahasiswa, Siswa SMP/ SMA /SD Negeri atau Swasta memiliki prestasi baik secara akademik maupun non-akademik, seperti hal nya pemilihan Puteri Pariwisata dan ajang bergengsi lainnya. Selain itu, peran generasi milenial dalam menjaga identitas bangsa indonesia dapat dilihat ketika momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020 dengan konten yang mendukung perdamaian, dan beberapa organisasi milenial yang berkontribusi terhadap pelurusan isu-isu atau hoax yang sedang marak di sosial media.

Sumpah Pemuda merupakan akses penting bagi generasi Milenial dalam mengapresiasi perjuangan para pahlawan serta mengaplikasikan rasa penghormatan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, seperti: aktif dalam menjaga perdamaian serta tidak berkecimpung dalam aksi radikalisme.       

Milenial adalah generasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan pergerakan kemerdekaan Indonesia secara modern sebagai generasi harapan bangsa. Bisa disimpulkan, tidak benar jika generasi Milenial tidak memberikan sumbangsihnya untuk menjaga Identitas Bangsa. Seperti perkataan Ibu Puan Maharani mengenai peran generasi Milenial yang penting untuk membangkitkan kembali semangat pemuda-pemudi terdahulu menjadi lebih baik.  Kalangan pemuda Indonesia harus mendorong antusiasme masyarakat agar tetap toleransi, dan menolak masuknya ideologi yang menyebabkan terjadinya pertikaian antar sesama.

Penulis: Mouza Sutra (Duta Damai Jawa Timur)

Tinggalkan Komentar