Menyelesaikan dengan Sambat : Konstruksi Budaya Sambatan dalam Masyarakat Jawa

Menyelesaikan dengan Sambat : Konstruksi Budaya Sambatan dalam Masyarakat Jawa

Jogja istimewa tidak hanya sekedar sebutan, tepatnya  di Gunungkidul menyimpan warisan tradisi nenek moyang yang membuat Istimewa. Diantara tradisi leluhur yang berkembang memuat budaya sosial didalamnya, seperti: sambatan.  Sambatan berasal dari kata sambat yang artinya mengeluh. Budaya sosial sambatan merupakan sistem gotong royong saling membantu antar warga, seperti orang yang terkena musibah atau yang sedang melaksanakan pekerjaan (ex: membangun rumah, penen, hajatan, dan selainnya).

Dalam tulisannya, Koentjaraningrat (2000) menjabarkan tentang arti sambatan, yaitu istilah yang berasal dari kata sambat, artinya “minta bantuan”. Makna keduanya sama-sama memiliki titik temu, yakni sebagai aktivitas tolong menolong yang dilakukan oleh masyarakat.

Budayasambatan bisa dijumpai di desa-desa yang masih menerapkan sistem kekeluargaan dan rasa kekeluargaan yang tingi. Pada umumnya, masyarakat menanamkan rasa ‘ewuh pakewuh’ yang berarti repot tidak enak hati. Hal itu bermaksud, orang disekeliling kita sedang mengalami kesusahan, sehingga kita tidak enak hati jika tidak menolong orang tersebut. Dengan menerapkan falsafah tersebut membuat budaya sambatan masih tetap eksis sampai sekarang.

Jarang dijumpai disekliling kita, orang yang rela untuk mewakafkan dirinya membantu urusan orang lain. Apalagi membantu orang tanpa meminta imbalan, kebanyakan di era modern ini orang yang membantu sesama akan mengharapkan sebuah imbalan, entah dalam bentuk materi maupun dalam bentuk pertolongan.

Berbeda dengan budaya sambatan yang tidak mengandung nilai materi tertentu. Sambatan mengedepakan rasa kekeluargaan sebagai dasar untuk melakukan gotong royong yang membantu sesama.  Tidak mengharapkan imbalan apapun dan tanpa pamrih, saat seorang saudara mengalami kesusahan.

Kearifan lokal ini perlahan sudah mulai memudar, dilansir gdhe.web.id 7/7/2013 menyatakan bahwa budaya yang seharusnya diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi mulai terkikis. Adanya era modernitas, rasa kepedulian semakin hilang dan tergantikan oleh rasa individualisme.

Jika ditelisik lebih mendalam, sambatan atau sambat bermakna yang negatif, yakni tidak bersyukur atas apa yang sudah dimiliki sekarang. Kita lupa bahwa diluar sana ada yang jauh lebih kekurangan, dan mereka tidak mengeluh atas apa yang dimiliki. Positifnya, tradisi sambatan tidak dalam taraf mengejek seseorang. Dengan begitu tidak sepantasnya kita mengejek atau menertawakan orang yang sedang mengeluh, mengulurkan bantuan akan sangat lebih bermakna.

Penanaman sifat empati dan peka terhadap lingkungan sekitar perlu ditanamkan. Melakukan aksi menolong yang bukan menjadi tanggung jawabnya menjadi contoh yang patut ditiru. Meskipun, menghidupkan perilaku menolong orang yang sambat tidak semudah yang dibayangkan, sebab realitanya adalah ketika orang sambat justru di cap orang tersebut tidak bersyukur. Cercaan inilah yang membuat orang semakin menjauh dari lingkungan masyarakat, akibatnya akan lebih susah bersosialisasi.

Kemungkinan terburuk, orang itu akan melakukan hal-hal yang diluar kendali bahkan membahayakan diri sendiri. Kemungkinan yang lain, mereka akan menjadi aktor penyebar kebencian dan membalas perbuatan yang setimpal. Akan sangat mudah di era digital menyebar ujaran kebencian dan hoax, yang menyebabkan munculnya konflik kekerasan verbal ditengah kedamaian masyarakat.

Potensi paham radikal masuk juga besar dan lebih bisa diterima. Karena orang yang mengajak selalu memperhatikan masalah orang yang sedang mengalami kesusahan. Kemudian kita menyalahkan korban paham radikal yang notabene sumbernya dari kita sendiri, secara tidak sadar kitalah yang menyebabkan ini terjadi. Apakah pantas jika kita menghardik orang yang terpapar paham radikal, sedangkah penyebabnya adalah kita?

Tentu saja, masyarakat dari semua latar belakang harus mengambil bagian dalam langkah pencegahan. Mengacu dari budaya sambatan dalam tindakan saling membantu. Menjadikan ‘masalahmu adalah masalahku’ sebagai langkah awal perlu dilakukan. Banyak hal kecil menimpa anak muda, seperti: teman yang sedang mengeluh karena putus cinta. Sikap  yang kita nampakkan bukan menertawakannya, melainkan membantunya agar bangkit seperti semula.

Begitupun penerapan dalam masalah lain, kita harus menghadapi dengan serius apapun masalah yang sedang didera. Baik dalam lingkup keluarga, pertemanan, dan masyrakat. Kita perlu membayangkan jika kita dalam posisi orang yang mengeluh akibat masalah yang mnerpa, dan orang lain acuh. Pastinya kita akan berpikir tidak ada orang yang peduli sama sekali.

Mengutip perkataan Ir. Soekarno, “Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua.” Merasakan apapun bersama dan menjalankan bersama-sama akan lebih mudah dikerjakan.

Menjadi orang yang sambat tidak ada salahnya. Mungkin, kita adalah pelaku penyebaran sebenarnya. Kita perlu menjadi manusia bijak dalam akal dan perbuatan. Meyakini hakikat manusia itu baik dan menghargai apa yang dilakukan orang. Membantu bukan menuduh.

Penulis : Akbar Trio Mashuri (Duta Damai Dunia Maya Jawa Timur 2020)

Tinggalkan Komentar