Jihad Santri  Milenial Di Era Disrupsi

Jihad Santri Milenial Di Era Disrupsi

            Dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “santri” memiliki dua makna. Makna pertama adalah orang yang mendalami agama Islam, dan  yang kedua adalah orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang shaleh.  Namun selama ini santri digunakan untuk menyebut orang-orang yang sedang atau pernah belajar dan mendalami ilmu agama Islam di pondok pesantren. Sebagian kalangan berpandangan bahwa kata “pesantren” merupakan asal usul terciptanya istilah “santri”.

            Membicarakan mengenai santri, kiprah, dedikasi, dan kontribusinya sangat besar dalam sejarah perjuangan bangsa. Santri membentuk barisan militer laskar Hizbullah yang menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata kaum santri dalam menjaga dan mempertahankan kemerdekaan.

            Tujuan awal dibentuknya Laskar Hizbullah adalah untuk memperkuat barisan militer Jepang yang bertransformasi menjadi kekuatan militer yang siap berjuang menjaga dan mempertahankan NKRI. Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 memberikan semangat kuat yang mendorong munculnya perjuangan yang lebih besar yaitu pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945. Peristiwa tersebut diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan.

Kaum santri secara konsisten menunjukkan jihad (perjuangan) dan kontribusinya di setiap era. Mulai dari zaman sebelum merdeka, era orde lama, orde baru, hingga era reformasi seperti sekarang.  Bahkan saat dunia tengah memasuki era disrupsi (disruption era), santri tetap memberikan kontribusi terbaik.

Disrupsi merupakan sebuah inovasi yang akan menggantikan semua sistem lama dengan sitem baru, mengganti cara-cara lama dengan cara-cara baru. Disrupsi mengganti pemeran-pemeran lama dengan pemeran baru. Bahkan era disrupsi juga berpotensi besar menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang dinilai mampu menghasilkan sesuatu yang baru, lebih efisien, dan juga lebih berguna.

Tantangan dan dinamika di era disrupsi semakin kompleks dan sulit untuk diprediksi. Hal ini disebabkan oleh teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang sangat pesat serta menjadi isu krusial yang mewarnai kehidupan antarbangsa dan negara, termasuk Indonesia.  Berkembangnya berita hoax, fitnah, ujaran kebencian, dan lain sebagainya merupakan salah satu tantangan dan dampak negatif yang timbul di era disrupsi.

Oleh karena itu, jihad santri di era disrupsi sangat dibutuhkan. Santri milenial di era disrupsi harus tampil terdepan dalam menampilkan inovasi digitalisasi dakwah Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyyah, yakni menyampaikan dakwah secara santun, damai dan menyejukkan. Menyampaikan pesan-pesan dan nasihat yang menjunjung tinggi nilai-nilai ke-islaman dan ke-indonesiaan sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama.

Di era digital sepeeti sekarang, santri diharapkan bukan hanya menjadi objek semata, melainkan menjadi subjek utama dalam mengisi kekosongan dunia maya dengan nilai-nilai positif melalui produksi tulisan, meme, poster, dan konten-konten perdamaian. Santri mempunyai dasar ilmu keagamaan yang dalam dan  mumpuni, sehingga harus mampu mengimbangi narasi-narasi negatif yang berkembang dalam masyarakat dan dunia maya.

Santri harus mampu mencegah, menangkal, melawan isu-isu radikalisme dan terorisme yang yang sedang berkembang. itulah jihad santri milenial di era disrupsi. Dakwah digital merupakan kunci, apabila konten-konten positif terangkat tentunya konten negatif akan terminimalisir dengan sendirinya.

Kemampuan berdakwah baik secara langsung maupun secara digital di era disrupsi merupakan suatu keharusan, mengingat pentingnya beradaptasi sesuai dengan konteks zaman sehingga dapat meredam kelompok-kelompok radikal yang semakin massif dalam media sosial untuk mengkampanyekan kepentingannya.

Di era digital, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) menjadi salah satu tantangan terberat kaum santri saat ini. Hal tersebut dikarenakan beberapa pesantren masih melarang penggunaan perangkat elektronik. Permasalahan ini menjadi dilema besar bagi santri dan kalangan pesantren. Pada masa lalu, Islam justru mampu mencapai puncak kejayaan karena ilmu pengetahuan. karena keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.

Budaya literasi santri dan masyarakat pada umumnya yang cenderung masih rendah. Padahal, wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Saw, adalah anjuran untuk membaca. Untuk itu, santri sebaiknya dibekali pendidikan yang bukan hanya bertujuan untuk menguatkan aqidah, ibadah, dan akhlak semata, melainkan juga ilmu pengetahuan umum dan wawasan kebangsaan.

Meskipun santri diharuskan menguasai teknologi, santri tetap harus mengedepankan akhlak dan menjadi suri tauladan terbaik. Seberapa tinggi pendidikan, seberapa banyak harta kekayaan yang dimiliki, dan setinggi apapun jabatan yang diraih santri harus tetap menghormati dan takdzhim terhadap Kyai. Adab dan akhlak merupakan ciri khas yang dimiliki santri. Inilah yang perlu dikedepankan dimanapun berada.

Di era transformasi digital, santri harus mampu berperan sebagai duta-duta perdamaian, yang secara aktif menyampaikan: nilai-nilai toleransi, pluralisme, kemanusiaan, serta perdamaian di masyarakat. Santri harus mampu menjadi agen perdamaian (security agent) bagi terciptanya kerukunan, keselarasan, kesejukan, dan perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketika setiap dari kita (santri) menyadari dan memahami, serta bersatu-padu atau berlomba-lomba dalam memberikan kontribusi terbaik terhadap negara, kita yakin mampu mencapai cita-cita besar bersama, yakni terwujudnya santri sehat dan Indonesia kuat.

Penulis: Nur Kholis dan Mouza M (Duta Damai Jawa Timur)

Tinggalkan Komentar