Guru Millenial, Menjiwai Kearifan Lokal

Guru Millenial, Menjiwai Kearifan Lokal

Pendidikan masa kini masih mengedepankan hanya ranah kognisi (pengetahuan) belaka harus diubah melalui penyeimbangan pengetahuan dengan sikap seorang guru sebagai tauladan dan kreatifitas yang tidak memadai. Hal ini bertujuan agar pendidikan mampu melahirkan generasi yang cerdas dan bermoral dan sanggup memberikan penyesuaian pada globalisasi tanpa mengesampingkan kearifan. KH Abdurrahman Wahid –atau lebih dikenal dengan sapaan Gus Dur- memiliki konsep tentang pendidikan karakter dengan mengedepankan moralitas dalam penyelenggaraan pendidikan.

Pendidikan karakter yang dimaksud adalah pendidikan karakter yang berbasis pada kearifan lokal. Kearifan lokal tersebut merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi dan juga ajaran keagamaan di nusantara.  Dalam bahasa Gus Dur, kearifan lokal itu disebut dengan Pribumisasi Islam, di mana ajaran agama Islam dan tradisi lokal dijadikan landasan moral dalam kehidupan nyata kehidupan masyarakat. Karena penanaman nilai-nilai moral dapat dilakukan melalui pendidikan, maka kearifan lokal (tradisi dan ajaran agama Islam) harus dijadikan ruh dalam proses pendidikan.

Selama ini masih natural kita lihat dalam konteks pendidikan yaitu pendidikan ala pesantren, pendidikan yang ada di sanggar pedesaan yang tetap menggunakan khasanah moralitas memunculkan karakter sebagai manusia Indonesia. bukan sekedar khasanah mencari peluang pekerjaan dan hanya sebagian dari pekerjaan formal.

Nilai-nilai adi luhur yang terus diperkuat untuk mewarnai keberagamaan yang sudah ada sekian abad-abad di tanah Nusantara. Penguatan kearifan lokal salah satu strategi penguatan masyarakat Indonesia menghadapi imperialisme. 

Adat kebiasaan dalam suatu tatanan masyarakat menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Norma adat yang yang berlaku menjadi landasan moral dalam berperilaku. Sedangkan ajaran agama menjadi pedoman hidup agar sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Kearifan lokal yang terbentuk dari tradisi lokal dan lokalitas ajaran agama mampu memberikan pelajaran hidup yang berguna bagi proses perkembangan kedewasaan seseorang melalui proses pendidikan. 

Proses pendidik selanjutnya ialah pada karakter seorang pengajar yang kita sebut Guru, Ustadz atau dosen dll. Mereka adalah ujung tombak generasi pelanjut. 

Dalam dunia belajar mengajar seorang pendidik tentunya akan di tuntut untuk menjadi pendidik yang kreatif, inovatif baik dalam proses perencanaan pembelajaran, pelaksanaanya maupun proses muhasabah pembelajaran guna dan tujuannya adalah agar nantinya menghasilkan generasi mempunyai kearifan yang mampu mengembangkan potensi setiap individu masing-masing. 

Maka kebutuhan untuk membentuk anak yang baik harus di dahului oleh seorang pendidik yang baik, dengan memiliki penghayatan nilai-nilai yang sanggup untuk menjadi suri tauladan. 

Sebagaimana yang di sampaikan bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Kyai Dr. H.Syukri Zarkasyi, MA : “At-thorikotu ahammu minal maddah wal mudarisu ahammu minat tharikoh wa ruhul mudaris ahammu minal mudarris” yang artinya : “Cara atau Metode itu lebih penting dari pada Materi (Materi pengajaran) dan Guru lebih penting dari Metode dan Ruh (Jiwa ) seorang Guru itu lebih penting lagi dari gurunya sendiri”.

Seorang guru harus dapat mendidik dirinya dan mengerti posisi sebelum seorang guru memberikan ilmu kepada seorang murid/santrinya. 

Dari penguatan dua unsur kearifan lokal dan penghayatan nilai seorang guru. untuk memberikan kualitas pada generasi penerus akan memberikan suatu perubahan besar pada generasi millenial tanpa melupakan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara bangsa. Wallhua’llam


Penulis: Ilmi Najib
Sumber Gambar: https://pendidikan.id

Tinggalkan Komentar