Estetika Filosofi Ekstrim : Si vis pacem para bellum

Estetika Filosofi Ekstrim : Si vis pacem para bellum

Terpikat akan arti keindahan kedamaian abadi dalam ribuan kearifan filosofi di setiap sudut kebudayaan, menyebabkan setiap insan dari segala waktu saling berlomba untuk menggaungkan cinta kasih dan mengabadikan kedamaian. Sedari jaman dahulu begitulah cinta kasih dan damai.

Estetika yang ditimbulkan, melarutkan jiwa hati berbunga-bunga. Hal yang mampu merubah sesiapapun menjadi pahlawan, bahkan dalam catatan beberapa sejarah kebudayaan masa lalu, membuat tuhan sendiri tak segan berkali-kali turun tangan dalam urusan kedamaian dunia manusia. Hanya untuk membawa makna damai yang sesungguhnya.

Berbagai definisi pun dijabarkan sebagai tafsiran. Dituangkan dalam banyak tulisan bernada persatuan. Para pakar pun bertungkus lumus menguras otak untuk memberikan pandangan tentang kedamaian. Didalamnya termasuklah kita, yang diyakini memiliki pandangan tersendiri tentang apa itu nilai perdamaian.

Kedamaian bukan sekedar kata yang mudah dipatenkan. Bukan kata yang mudah juga orang mengatakan “DAMAI”. Damai memiliki sejarah yang menyesakkan, menyusahkan nan panjang berliku lagi berkelok. Banyak pengorbanan disebaliknya. Keringat, darah, harga diri, harta, waktu dan segalanya bahkan nyawa Tuhan sendiri diserahkan.

Bagai muka kepingan pedang bermata ganda, perdamaian tidak akan ada tanpa perseteruan. Perdamaian hanya ada di bawah tangan besi tirani. Tetapi terkadang dalam skala perserkian, kedamaian tumbuh dalam konflik apabila ianya saling menyadari. Beberapa faktor eksternal turut serta dalam menciptakan konsep damai model begini. Seperti, faktor sosio antropologi, genetika, geografis bahkan dietografi (grafik gizi/pengaturan konsumsi makanan dalam tubuh).

Indonesia damai dalam ribuan perbedaan suku, ras, budaya begitu menyita perhatian dunia. Kontrasnya kemajemukan bisa menciptakan persatuan yang solid seakan hal yang mudah. Salah satu alasannya ialah, geographic factor. Indonesia tersatukan dari puluhan ribu pulau dalam jarak berjauhan. Menyebabkan mereka secara langsung saling sadar dan menyadari, bahwa mereka terbentang oleh pebedaan ruang dan waktu yang jauh. Komunikasi sepintas terjadi antar sesama mereka, dan hanya memerlukan pay respect ketika mereka keluar dari lingkungan. Isolasi alami yang menjadi salah satu resep rahasia terciptanya Bhinneka Tunggal Ika, Nusantara.

Jalan perdamaian biasa ditempuh dalam dua cara. Di bawah tangan besi tirani atau kompromi saling menyadari. Tangan besi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna mencapai sesuatu dengan “keras”. Dibawah senjata atau menggunakan sistem kepemimpinan yang super kuat. Sedangkan kompromi ditafsirkan saling menyadari, saling memberi, saling merugi untuk kepentingan bersama yang lebih besar. Tetapi sebagai manusia adalah hal berat untuk saling mengalah, senantiasa menerima sesuatu yang terkadang sudah tidak peduli logika dan lebih bermain kepada rasa.

Kedua jalan memiliki konsekuensi tersendiri. Positif dan negatif. Memilih bertangan besi, namun kekerasan akan merajai. Apabila hanya sekedar saling sadar, terkadang insan akan akan bertahan dengan keegoisan. Lantas, bagaimana perdamaian akan tercipta apabila semua cara tiada hasilnya? Kombinasi antar keduanya mungkin akan lebih bermakna. Jatuh kepada nilai saling mengingatkan pada akhirnya. Kerasnya peraturan tentang perdamaian, bisa diperhalus sesuai dengan kondisi bangsa, mengikut kita ini negara yang beragam suku adat budayanya.

Berbicara tentang perdamaian berkonsep tangan besi. Kalimat ekstrimis, sering kali dielakkan dalam mendefinisikan ketenangan. Perlu diingat terdapat konsep perdamaian berbahasa latin yang ditulis oleh ahli strategi militer Romawi, Publius Flavius Vegetius Renatus. Si vis pacem para bellum, igitur qul desiderat pacem praeparet bellum. Berartikan, “Apabila ingin berdamai maka bersiaplah untuk berperang” Kalimat yang sepintas terdengar kontras lagi keras, tetapi itu benar adanya. Konsep yang konon telah dirumuskan pada era Plato 427-347 tahun sebelum masehi ini tidak bermaksud untuk memprovokasi anti damai dan anjuran untuk berperang. Melainkan, memperingatkan agar setiap negara mampu memajukan pertahanan, kedaulatan demi jaminan perdamaian (Bambang Soesatyo, 2020).

Filosofi bernada kontra damai ini, sering digunakan oleh para tokoh-tokoh perdamaian, pemerintahan, bahkan para Tentera Negara Indonesia apabila menjelaskan tentang bagaimana sistem pertahanan itu bekerja dengan cara yang berbeda. Pengamat Hukum dan Pertahanan Universitas Sebelas Maret (UNS), Adi Sulistyo mengatakan, filosofi itu jamak dan banyak diterapkan oleh negara-negara di dunia. Turut menggambarkan betapa susahnya kedamaian itu sebenarnya. Kata yang ditujukan untuk menunjukkan kegarangan dan kesungguhan tentang persatuan. Tidak boleh hanya diartikan sebagai kata tenang tanpa mengetahui disebalik makna damai tersendiri.

Si vis pacem para bellum, mampu menjadi modal untuk menumbuhkan sikap nasionalisme dan patriotisme. Yang mana mereka akan merasa terbakar sumbu semangatnya dalam mencintai negaranya. Menggunakan makna tersirat tentang damai yang “bertangan besi”. Semoga ini menjadi api untuk tetap menciptakan kedamaian.

penulis : Aysha Vio Ferika Hana Christvany Islamwell (Duta Damai Jawa Timur)

Tinggalkan Komentar