Esensi warna-warni ibu pertiwi (mtDNA Paleoantrophology)

Esensi warna-warni ibu pertiwi (mtDNA Paleoantrophology)

Oleh: Aysha Vio Ferika Hana Christvany Islamwell
Kelompok 1


Menilik esensi dari ibu pertiwi yang dipenuhi dengan ragamnya warna-warni pribadi negeri. Dihiasi kemajemukan solid tanpa bisa lagi dikotak-katik. Ideologi Pancasila yang tegap dan tidak dapat diganggu gugat. Berasaskan undang-undang yang sudah konsisten dan berdaulat. Negeri berjuta keajaiban dunia. Indonesia namanya. Dia negara berlambangkan makhluk yang melambangkan sebuah hakikat kegagahan dan kekuatan. Memikul 5 ideologi penuh nilai patriotis. Bersemboyankan persatuan dalam perbedaan (uniti in diversity).

Di tahun 2017 ini, di jaman NKRI yang sedang dilanda rezim reformasi kebablasan ini, dapat dipetik pelajaran dengan berkaca pada kisah epic perjuangan dua tokoh tak terbaca sejarah di atas. NKRI sedang terjatuh tercerabut oleh warganya sendiri. Warganya yang sudah terbius kepentingan keserakahan pribadi. Mungkin tak lama lagi NKRI akan hancur oleh kepentingan dunia luar yang lebih serakah lagi.

Dunia intelijen mereka tengah bekerja disini. Mencoba mencari jalan buat cepat tumbangnya NKRI yang besar ini. Mereka telah berhasil melancarkan aksi penghancuran lewat pintu demokrasi 98, tapi NKRI belum jatuh juga. Dengan taktik aksi-aksi teror bom pun mereka belum berhasil merobohkan NKRI. Taktik adu domba dengan negara-negara jiran pun tak ada hasil. Bahkan beberapa bulan yang lalu mereka melancarkan suatu konspirasi buat penghancuran lewat pintu SARA. Beruntung NKRI masih mempunyai tokoh kharismatik yang dapat meredam euphoria kemarahan umat yang notabene sebenarnya berpaham saling bertolak belakang dan saling bermusuhan. Memang kali ini percobaan intelijen asing buat merongrong NKRI gagal, entah beberapa tahun ke depan.

Semangat ketuhanan dan kemanusiaan yang sudah tertanam di benak setiap insan berkebangsaan ibu pertiwi, terkadang ada juga terselip sebuah miscommunication. Salah makna, salah arti, hingga memang ia sudah tiada peduli. Perilaku insan tanpa jati diri dan bingung membawa diri di tanah ibu pertiwi, terkadang menimbulkan perpecahan. Membawa-bawa masalah SARA (suku, agama, ras, dan sejenisnya), bahkan menolak perbedaan. Maka dari itu, tulisan ini akan membawa kita untuk melihat esensi pengertian sudut pandang lain. Yaitu mtDNA Paleoarcheology.

Langsung saja masuk. Perbedaan adalah hal yang manusiawi. Perbedaan juga yang membuat alam semesta menjadi hal yang sangat mendahsyatkan karena perbedaan yang berwarna-warni. Bahkan hanya karena ada perbedaan sebesar 2% DNA primata dapat membedakan fisiologi manusia seutuhnya dengan sang kerabat dekat. Namun perbedaan juga adalah hal besar yang menyangkut sudut pandang dari banyak perkara. Toleransi dan saling hormat menghormati adalah hal yang wajib dan mesti. Hak asasi adalah asasi sejauh tidak melanggar hak asasi orang lain, atau konflik-konflik antar kepentingan yang merugikan secara masif di kedua belah pihak tak akan bisa dihindari. 

Perdamaian di tengah konflik adalah keharusan. Perdamaian semu bisa terjadi di bawah tangan besi tirani. Perdamaian sejati hanya bisa dibawah musyawarah mufakat dengan asas saling menyadari, saling menghormati dan saling menghargai. Untuk memenangkan perdamaian, seorang negosiator harus menguasai pendidikan ilmu seni perundingan dan ilmu sosio antropologi. Ketika ia akan berbicara dengan bunga mawar, ia harus tahu ilmu mawar dan tahu bila ia menjadi mawar [Cong Fu Sius dan Sun Tsu].

Indonesia mempunyai 17.504 pulau [Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum, 2017], mempunyai 652 bahasa daerah yang berbeda [Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017] serta mempunyai 1331 suku bangsa berbeda [Badan Pusat Statistik, 2010]. Betapa bhinneka tunggal ika, tapi juga betapa sebuah potensi kehancuran besar yang akan dialami bangsa dan negara ini bila strategi pendidikan tidak diperhatikan. Sejarah sudah membuktikan kesudahan dari teror dan huru-hara oleh bangsa-bangsa yang merasa paling superior dibanding bangsa lain. Dan di zaman ini ilmu pengetahuan biomikromolekuler menguak kenisbian dan kesemuan dari ke-superior-an yang mereka bangga-banggakan, tak lebih hanya berupa pemicu konflik yang memilukan. 

Pada Tahun 2012, sekelompok ilmuan asal Amerika Serikat melakukan pendataan sampel DNA dari lebih 1000 orang Indonesia dari berbagai suku yang ada di Nusantara dan Asia Tenggara. Tubuh makhluk hidup tersusun dari triliunan sel, di dalam setiap sel terdapat DNA. DNA adalah untaian triliunan molekul yang bertugas untuk mencatat besaran dan ukuran fonetik morfologi tubuh makhluk hidup, dan setiap makhluk hidup mempunyai susunan DNA yang khas dan saling berbeda satu sama lain. DNA adalah suatu identitas khas yang mempunyai keakuratan 100%, sehingga potongan organ tubuh bisa ditentukan milik siapa, apalagi cuma asal-usul siapa ayah bunda dari seorang anak.

Lebih dari 20 Suku partisipan yang diidentifikasi seperti Suku Melayu Palembang, Suku Minangkabau, Suku Sunda, Suku Jawa, Suku Dayak, Suku Toraja, Suku Batak Toba, Suku Karo, Suku Mentawai, Suku Alor, Suku Lembata, Suku Lemaholot dan Suku Manggarai. Juga penelitian genetika dari Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof Herawati Sudoyo, PhD. Mengungkap dengan menggunakan tiga marka genetik, yaitu DNA mitokondria, kromosom Y, dan autosom, dapat diberikan gambaran tahapan migrasi yang membentuk latar belakang manusia Nusantara.

Terbukti secara ilmiah sudah, bahwa bangsa besar Indonesia ini secara genetika adalah dalam satu koridor besar saudara kandung. Anak-anak ibu pertiwi tercinta, NKRI. Tak perlu lagi dan tak usah lagi mau terpisahkan oleh perbedaan suku, ras, bahasa, budaya dan agama yang berbeda. Bangsa besar Indonesia secara ilmiah adalah sama dan setara. Paham-paham yang tidak menginginkan kesatuan dan persatuan, harus kita lawan. Karena pada dasarnya, kita ini sama. Yaitu berlandaskan Pancasila dan bersemboyankan, Bhinneka Tunggal Ika.

Sudut pandang Bhinneka Tunggal Ika dari sumbangan ilmu genetika dan esensinya.


Referensi:

  • https://www.livescience.com/29342-ancient-mother-tongue-reconstructed.html
  • https://www.livescience.com/57966-bronze-age-weapons-unearthed-in-scotland.html
  • https://www.livescience.com/999-ancient-hindu-text-preserved-modern-technology.html
  • https://www.livescience.com/20614-collapse-mythical-river-civilization.html
  • https://www.livescience.com/23483-nazi-buddha-carved-meteorite.html
  • http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0002929707605412
  • https://bmcevolbiol.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12862-017-0936-9

Tinggalkan Komentar