Bermain Dengan Psikologi Forgiveness

Bermain Dengan Psikologi Forgiveness

Dilema, gelisah, gundah, galau, gulana dan merana. Patah hati tiada dua, menyerah dan hanya mampu merajut asa yang tersisa. Berkata, diri ini introvert dan sudah tiada guna. Berusaha menyingkirkan segala upaya untuk meghilangkan kesedihan. Ketidakadilan pada diri menjadi akibat dari segala keluhan ini. Hingga kedamaian sudah tidak lagi menjadi kunci.

Perasaan hanyut seperti terbawa arus inilah yang berbahaya. Arti kedamaian yang hanya dijelaskan secara filosofis sebagai pembungkam kelompok-kelompok ektrismis dan sejenisnya, itu hal yang wajar. Setiap insan yang mencintai negara dan agamanya harus memiliki unsur kedamaian serta persatuan. Namun, sejatinya kedamaian itu memiliki makna luas. Tidak melulu tentang society peace, tetapi juga tentang kedamaian diri. Terkadang, unsur ini yang sering lupa  yang menyangkut tentang kebahagiaan dan kedamaian versi diri sendiri.

Konflik dengan diri, akibat datangnya tekanan serta tuntutan tanpa solusi menjadikan seseorang merasa rendah diri. Munculnya sikap insecurity (tidak aman) melahirkan ketidak sehatan pada mental. Seperti tidak ingin memaafkan diri sendiri, unaware (tidak peduli) dengan pribadi diri, hingga mencapai tahapan mental illness (kesakitan pada mental).

Tindakan tidak normal itu akhirnya memberi dampak pada kesehatan jasmani dan rohani. Sakit-sakitan hingga melupakan tuhan. Berusaha mencari jalan, tetap hasilnya terjebak di jalan penuh kesilapan. Pada akhirnya timbullah pemikiran radikal dan merusak persatuan.

Damainya hati dan jiwa, mampu melahirkan kesehatan rohani dan jasmaniyah (Worthinghon, E.L,.2004). Psikologi dan pembangunan mental juga menjadi kunci kebahagiaan. Dikutip dari Duffy, KG and Wong, 1996 mengatakan, bahwa kedamaian itu merupakan ketenangan hati dan juga mental. Konsep memaafkan diri sendiri memiliki implikasi besar untuk kehidupan. Psikologi positif menawarkan cara terbaru untuk bisa menemukan damai dalam diri sendiri, yang mana sudah tidak lagi fokus kepada mengobati sakit mental, tetapi melihat kepada potensi dan kekuatan tiap individu.

Berbagai teori tentang forgiveness seperti yang dikatakan oleh Mc Cullogh (2002), memaafkan diri sendiri merupakan sebuah rangkaian perubahan motivasi. Motivasi untuk balas dendam menurun, motivasi untuk menghindari bertemu dengan pelaku atau sebutan terkininya toxic people menurun, dan motivasi untuk bersikap damai meningkat. Sehingga dengan adanya self forgiveness mampu mengembalikan lagi rasa percaya diri dan meningkatkan kesehatan mental.

Memahami satu sama lain, berdasarkan prinsip-prinsip dalam interaksi sosial sangat dibutuhkan. Pemberlakuan prinsip keadilan, kebijakan, dan saling menerima ialah hasil nyata. Damainya diri ketika kita mampu menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain. Pada akhirnya mampu menjadi diri yang progresif, bersatu dengan masyarakat, dan menciptakan sebuah kontribusi persatuan.

Kunci resep perdamaian dunia Nusantara adalah konsep perdamaian samawi. Konsep perdamaian yang turun dari kemuliaan surgawi. Bahkan Tuhan sendiri harus turun ke dunia untuk membawa konsep perdamaian dengan tangan-Nya sendiri. Bisa dibaca ulang dari gambar-gambar di dinding-dinding gua prasejarah tertua di dunia, gua Bulu Sipong 4 Pangkep Sulawesi Selatan. Membuka mata kita akan pesan perdamaian dari Tuhan sendiri sedari jejarak waktu 44.000 tahun yang lalu.

Tidak kalah dengan teorema kedamaian manusia abad 21, yang terukur dalam :

1. Kecerdasan Intelektual (Intellegence Quotient=IQ). Merupakan kecerdasan kognitif (aktivitas berpikir), yang erat kaitannya dengan kemampuan mengingat, memahami, menganalisa, dan memecahkan masalah.

2. Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient = EQ). Merupakan kecerdasan emosi, yang erat kaitannya dengan kemampuan mengontrol perasaan diri sendiri, mengenali perasaan orang lain, disiplin, tanggung jawab dan komitmen.

3. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Qoutient = SQ). Merupakan kecerdasan jiwa yang erat kaitannya dengan kemampuan untuk bertindak jujur, adil, kasih sayang, rendah hati, empati dan sumber bimbingan bagi kecerdasan IQ dan EQ.

Kecerdasan Transendental (Trancendental Quotient = TQ). Merupakan kecerdasan rohaniah, kemampuan untuk memaknai kehidupan dalam perspektif agama.

Sebagai akhir, tangan besi sama halnya saling mengerti. Mutlak pilihan sendiri karena Tuhan sudah memberi. Psikologi diri untuk mencapai kesepakatan damai, juga berasal dari kekuatan pribadi. Apabila terdapat masalah unpeacefull pada diri sendiri, segera menghubungi pakar untuk menjalani treatment/pengobatan. Damai hati dan damailah diri.

Penulis : Aysha Vio F.H.C.Islamwell (Duta Damai Jawa Timur)

Tinggalkan Komentar