Kisah Terorisme Seorang Remaja dan Kalangan Terdidik

Kisah Terorisme Seorang Remaja dan Kalangan Terdidik

Salah satu temuan yang dihimpun oleh jurnal International Center of Counter Terorism (ICCT) 2017 menyebutkan faktor orang terpengaruh paham terorisme adalah ekonomi yang lemah. Akan tetapi, pernahkah kalian membayangkan kebalikan dari data tersebut? Misalnya pelaku teror dari keluarga yang memiliki kebutuhan ekonomi yang sudah mapan.

Dalam seminar hari terakhir Youth Ambassadors for Peace Asia Tenggara yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tanggal 25 April 2019 di hotel Discovery Ancol Jakarta Utara menghadirkan sosok remaja kelahiran Batam. Dia adalah remaja yang pernah terpapar paham terorisme hingga mengajak keluarganya hijrah ke Suriah. Dia adalah Nurshadrina Khaira Dhania.

Siang itu, Dhania dengan penuh energik menceritakan pengalamannya menjadi remaja kala itu. “Saya adalah anak dari bapak dan ibu yang semuanya bekerja mencari nafkah, bapak saya PNS. Hidup kami dalam keluarga selalu enak dan bisa apa saja bersama anggota keluarga yang besar. Kami hidup dalam kondisi ekonomi yang dapat dibilang terpenuhi. Seperti dengan adanya jaringan internet (WiFi) di rumah. Setiap hari saya selalu bermain media sosial, khusunya facebook.”

“Di umur 16 tahun saya bertekad bergabung bersama ISIS dan memebujuk keluarga. Pertama kali saya tahu tentang ISIS dari paman saya, Iman Santoso, yang telah mendeklarasikan kekhalifahan di Suriah, tahun 2015. Kemudian, saya lebih mencari tahu ISIS dari facebook dan internet,” tambah Dhania.

Dhania juga mengaku mendapat informasi tentang ISIS dari Tumblr, dan kanal Diary of Muhajirah (Catatan Harian Kaum Perempuan yang Berhijrah) berisi pengalaman orang-orang yang berhijrah ke Suriah. Dia pun mulai berkomunikasi dengan pendukung ISIS di Suriah. Para pendukung ISIS di Suriah menjanjikan kehidupan yang layak dan menanggung semuanya; listrik, air, rumah, dan lain lain. Selain itu, bersama adiknya, Dhania sering menonton video propaganda ISIS dari Suriah. 

“Saya juga mulai yakin dengan propaganda ISIS yang menyebutkan untuk menjadi muslim yang sebenarnya harus hijrah ke Suriah, dengan dikuatkan dalil bahwa Suriah adalah negeri yang diberkati Allah. Alhasil, saya bertekad ingin berubah dan menjalankan hidup sesuai dengan nilai-nilai Islam dan pergi ke Suriah.” 

Selain mengajak keluarganya, Dhania juga berhasil mempropagandakan ISIS ke masyarakat luar. Ia bergabung dalam rombongan berjumlah 26 orang, termasuk dirinya sendiri, untuk berangkat ke Suriah melalui Turki, Agustus 2015. Di sana bertemu dengan penghubung yang kemudian membantu mereka menyebrang ke Suriah dan terhubung dengan militan ISIS. Sampai di perbatasan, hanya 19 orang yang berhasil menyebrang ke perbatasan Suriah, selebihnya ditangkap pemerintah Turki.

“Ketika masuk Suriah, aku senang sekali, pas di perbatasan, langsung sujud syukur, karena sampai di negeri yang diberkahi,” ujar Dhania.

“Di perbatasan saya dan rombongan dijemput oleh anggota militan ISIS, dan berjalan kaki di daerah kekuasaan ISIS. Laki-laki dan perempuan dipisahkan. Anggota keluarga laki-laki dibawa ke sebuah tempat untuk menjalani pelatihan militer. Perempuan itu dibawa ke sebuah asrama, sebagai tempat penampungan bagi wanita dan menunggu mahromnya,” cerita Dhania.

Namun begitu sampai di asrama, Dhania merasa situasinya tak seperti yang digambarkan di internet. Asrama sangat kotor. Padahal islam kan mengajarkan bahwa kebersihan sebagian dari iman.

“Sudah mulai muncul perasaan kecewa, kok beda seperti yang disampaikan di internet, mereka cerita di asrama semuanya bersih, semua akhwat saling tolong menolong dan ramah. Tapi sampai di sana kotor, banyak orangnya dan tidak tertata rapi, dan sering ada perkelahian,” ungkap Dhania.

Dhania dan kakak perempuannya beberapa kali diajak menikah oleh militan ISIS, dengan alasan bagian dari jihadnya, akan tetapi berhasil dia tolak. Saat itu Dhania masih berumur 17 tahun. Selama empat bulan Dhania dan keluarganya tinggal di asrama, kemudian diberi rumah gratis.

Namun, janji ISIS untuk mengganti uang perjalanan dan memberikan pekerjaan tanpa harus mengikuti wajib militer tidak dipenuhi. Berbeda dengan yang mereka janjikan di internet yang katanya tidak ada wajib militer. Ternyata ada wajib militer, di mana yang laki-laki harus berperang dan perempuan menjadi budak seksual. 

Beberapa bulan hidup di Suriah, Dhania semakin banyak menemukan gambaran tentang Suriah dan propaganda ISIS. Dari segi agama, juga banyak sekali yang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Dia pun mulai mencari jalan untuk keluar dari Suriah. Akhirnya, 2017 kami keluar dari Raqqa melalui Irak, dan bisa pulang ke Indonesia.

Di penghujung cerita, Dhania berpesan kepada duta damai dunia maya Asia Tenggara untuk berpikir kritis, membaca dan mengkaji Al Qur’an dengan baik/benar, memperbanyak membaca buku, lakukan penelitian, menanyakan kepada seorang guru atau orang yang lebih tahu serta berdiskusi atau mendengarkan pendapat dari orang lain. Dengan semua itu kita tidak mudah merasa benar sendiri. Sehingga, apa yang kita baca dan bagikan di internet selalu berisikan hal-hal positif; perdamaian, toleransi dan cinta kasih.

Setelah tiga puluh menit remaja asal Batam bercerita, dilanjutkan oleh pemuda asal Aceh, Yudi Zulfahri, S.STP, M. Si. Yudi memulai dengan sebuah pertanyaan yang membuat peserta bingung. Pertanyaanya adalah apakah terorisme itu hanya dilakukan oleh orang islam? Dan apakah terorisme itu identik dengan islam?

Berikutnya, lulusan STPDN tahun 2006 ini, yang bergabung kelompok teroris mulai 2007 hingga 2010 ini menjelaskan beberapa kelompok terorisme agama. Beberapa kelompok terorisme agama di antaranya; Army of God (Nasrani Amerika Serikat), Zionis (Yahudi Israel), Rashtriya Swayamsevak Sangh (Hindu India) dan kelompok terorisme Budha di Rohingya.

“Sedangkan di mana kelompok terorisme islam? Ini telah menjadi perdebatan panjang. Apakah terorisme islam itu sebuah konspirasi global atau nyata? Hal itu pernah ditanggapi oleh Din Syamsuddin, bahwa terorisme itu konspirasi global. Sedangkan mantan kepala BNPT, Ansyad Mbai pernah mengatakan bahwa terorisme itu nyata. Menurut saya, ‘Di dunia internasional, terorisme itu konspirasi negara-negara kuat, dan di tahap lokal, terorisme itu nyata.’,” ujar Yudi.

Yudi tidak menyangka dirinya bisa menjadi teroris, padahal saat kuliah ia selalu disuruh hormat bendera sebulan empat kali. Saat remaja, dirinya juga ikut mengutuk pelaku bom bali dan aksi teror lainnya. Padahal juga, sekolahnya adalah kampus yang memprospek kaderisasi pejabat pemerintah, di mana setelah lulus bisa langsung menjadi PNS golongan 3 A. Akan tetapi, kenyataan berkata lain, dan dia terperosok menjadi seorang teroris.

Yudi berefleksi dan menemukan gejala mengapa dirinya bisa menjadi teroris. Dia menemukan pola penalaran psikologi dan emosional yang termaktub dalam piramida terorismenya. Piramida terorisme adala teori yang dia buat sendiri. Di mana akar dari terorisme adalah berawal dari sikap intoleransi dan radikalisme.

“Sikap intoleran dan radikal itulah yang membawa alam bawa sadarnya kepada tindak terorisme. Saya menerima doktrin intoleran dan radikal itu dari pengajian keagamaan di kampus. Saya belajar tanpa filter, apapun yang masuk saya telaah mentah-mentah dan yang saya telaah adalah ajaran yang salah. Saat pulang ke Aceh, saya hanya ingin menerima materi pengajian yang serupa dengan saat di kampus- dan tidak menerima pengajiaan yang lain,” tambah Yudi.

Dari kedua kisah di atas, jelas terang bagi kita semua paham terorisme bisa menjangkit siapa saja. Kita harus terus waspada dan bersama menangkal terorisme, di dunia maya atau dunia nyata. Karena, terorisme bisa menyerang anak-anak, remaja, muda dan tua, serta kalangan terdidik ataupun tidak.


*Penulis: Al Muiz Liddinillah

Tinggalkan Komentar