Duta Damai Regional Jawa Timur
Duta Damai Regional Jawa Timur dibentuk dan dikukuhkan pada 27 Juli 2017 dan kemudian melakukan regenerasi pada 07-10 September 2020, guna menyebarkan konten-konten positif dan sebagai cara kontra narasi negatif di dunia maya. Serta untuk mencegah penyebaran konten-konten yang mengandung radikalisme dan terorisme serta informasi atau berita palsu (hoaks).

Menatap Langit

       Hujan turun dengan derasnya membasahi jalanan, rerumputan, hingga menciptakan sebuah genangan di jalan yang rusak akibat ulah egoisnya manusia. Di jalan ini dulu tak pernah ramai lalulalang kendaraan, kecuali di saat libur panjang. Sejak seminggu terakhir truk-truk besar mulai tampak melintas menuju lokasi pabrik yang akan dibangun di desaku. Suasana desa yang dulu tenang dan damai, seketika berubah bising oleh alat-alat pembangunan yang tak hentinya beroperasi dari pagi hingga petang.

Jalan di desa tak terbuat dari material yang sama seperti jalan raya. Meski pabrik baru yang dibangun berdampak baik pada bertambahnya lapangan kerja, tapi tetap saja karena keegoisan manusia, hanya dalam waktu seminggu saja jalanan di desaku rusak berlubang dan tak terlihat kepedulian baik pemilik pabrik maupun warga desa untuk memperbaikinya. Mereka terlalu sibuk bekerja.

Dan diriku, seorang gadis desa yang bisu. Apa yang bisa kulakukan, akankah mereka mendengarkanku jika kutuliskan sebuah keluhan? Tidak! Jika keluargaku tak peduli akan apa yang aku inginkan, untuk apa warga desa memberiku perhatian.

Di bawah derasnya hujan aku terus berlari tanpa peduli akan apa yang orang lain pikirkan, terus berlari dan berlari hingga kaki ini tak sanggup melangkah lagi. Matahari di atas sana masih belum memberi tanda akan kembali dari persembunyiannya, aku melihat langit tertutup awan mendung dan masih terus menurunkan hujannya. Seperti diriku, jatuh menumpahkan semua yang menyesak di dadaku, mengalir keluar bersama bulir-bulir air mata yang mulai  runtuh. “Sakit…!” Ingin sekali kuteriakkan kata itu, namun tak ada suara apa pun yang keluar dari mulutku. Aku hanyalah gadis bisu.

“Hei Ama, kerjakan tugasku! Aku tidak mau tahu harus selesai sebelum pelajaran Pak Harun.”

“Sebentar Kevin, aku harus menyelesaikan cerpenku dulu, setelah itu aku akan membantumu mengerjakan tugasmu,” jawabku padanya dengan bahasa isyarat.

“Ha? Kau ini mau bicara apa, aku tidak mengerti! Cepat kerjakan tugasku, aku akan ke kantin dan saat aku kembali nanti, kau harus sudah menyelesaikan apa yang kuperintahkan!”

Dia selalu seperti itu, memerintahku seenaknya dan meninggalkanku begitu saja tanpa peduli apa aku mau atau tidak melakukannya. Aku menghela napas, ini sudah biasa aku tidak perlu merasa marah hanya perlu menyelesaikan tugas miliknya dan melanjutkan menulis cerpen yang akan kuikutkan lomba. Dia tidak akan menggangguku lagi jika aku sudah melaksanakan perintahnya. Aku memang suka menulis dan sekarang sedang menulis sebuah cerpen yang rencananya akan kuikutkan lomba, namun cerpen itu masih belum selesai padahal besok adalah hari terakhir pengiriman karyanya. Entah mengapa akhir-akhir ini ada saja pekerjaan yang harus segera kuselesaikan di rumah ataupun di sekolah sehingga aku tidak memiliki banyak waktu untuk menulis cerita.

Aku menyimpan buku menulisku, buku dengan sampul biru yang diberikan sahabatku saat kami wisuda SMP dulu. Buku ini begitu berharga buatku, bukan karena berisikan cerita-cerita hasil karya milikku, namun ini lebih dari itu. Buku ini pemberian sahabatku, sahabat yang tidak mungkin lagi bisa kutemui, dia telah pergi jauh dan hanya buku inilah kenang-kenangan terakhir tentangnya yang kumiliki.

“Aku sadar aku hanyalah gadis bisu, tak banyak orang yang tahu dan mau mengerti kata-kata yang ingin kusampaikan lewat gerakan tanganku. Diperlakukan buruk seperti itu bukan hal asing lagi buatku, namun, aku juga punya hati yang bisa merasakan sakit, aku ingin diperlakukan dengan baik. Aku juga ingin didengar dan dipahami,” curahku dalam hati.

Aku terkadang bertanya pada diriku, apa gunanya berusaha menjawab orang yang berbicara padaku? Mereka tidak mengerti dan tidak mau mengerti arti di setiap gerakan tangan yang kubuat untuk berkomunikasi. Padahal aku juga ingin didengar, ada banyak cerita yang ingin aku bagi dengan yang lain, namun sayangnya tidak ada yang mengertiku di sini. Akhirnya aku hanya bisa menulisnya dalam lembar-lembar buku, berharap suatu saat nanti akan ada orang yang mau membacanya dan mengerti perasaanku ini.

Setelah 10 menit aku sudah menyelesaikan tugas milik Kevin, akhirnya aku bisa melanjutkan menulis cerpenku, tapi tiba-tiba rasa lapar mengganggu perhatianku. Aku teringat belum sempat sarapan pagi tadi dan sebentar lagi waktu istirahat berakhir. Aku menahan rasa lapar yang melilit perutku, tetap duduk di kelas  dan melanjutkan menulis cerpenku. Cukup sulit untuk tetap fokus menulis dengan perut kosong tapi kuhiraukan semua itu hingga terdengar seseorang memanggil namaku.

“Amanda! Tugasku sudah kau selesaikan?” tanya Kevin padaku, aku hanya menganggukkan kepala menanggapi pertanyaannya. Dia mengambil dengan kasar buku miliknya dari tanganku lalu pergi tanpa mengucapkan kata terima kasih.

Selalu seperti itu, memang aku adalah gadis bisu tidak bisa mengatakan ketidak senanganku akan perlakuan orang-orang yang semena-mena padaku. Aku hanya bisu! Bukan tidak punya hati yang bisa selalu disakiti, diperlakukan buruk seperti ini. Aku juga ingin dimengerti.

“Huhh …” tidak ada gunanya mengasihani diri sendiri, hanya membuatku semakin merasa tak berarti, aku akan menulis semua keluh kesah yang kurasakan dalam hati ini menumpahkannya dalam larik-larik cerita fiksi. Suatu hari nanti akan ada orang yang akan mengerti perasanku ini. Aku yakin!

Pelajaran terakhir sudah selesai, jam dua siang aku segera pulang dengan rencana akan menghabiskan waktu di dalam kamar menyelesaikan cerpen tanpa ada orang yang akan mengganggu kegiatanku. Sesampainya di rumah segera kuganti pakaian, shalat dhuhur dan menghabiskan makan siang di kamarku. Setelahnya, aku mengetuk pintu kamar kakak laki-lakiku berniat meminjam laptop dan menyalin cerpen dari buku bersampul biru milikku, aku akan mengetik cerpen itu agar bisa kukirim lewat emailke sebuah penerbit buku yang mengadakan lomba cipta cerpen yang ingin kuikuti. Aku menunggu di depan pintu kamar dengan sabar hingga pintu itu terbuka.

“Kak Rama, Amanda boleh pinjam laptopnya sebentar?” aku menyerahkan kertas bertuliskan permintaanku padanya. Kak Rama memang tidak mengerti bahasa isyarat jadi aku akan menulis di sebuah kertas apa yang ingin kukatakan padanya, namun Kak Rama terlihat tidak peduli akan apa yang aku tulis di kertas itu, ia malah membanting pintu dengan.keras. Kak Rama mengabaikanku.

Aku tidak menyerah, aku masih berusaha membujuknya, mengetuk pintu kamarnya sekali lagi berharap ia membuka pintunya dengan membawa sebuah laptop di tangannya. Keluargaku memang tidak terlalu menyukai kegiatanku menulis, mereka bilang tidak ada gunanya menulis, aku hanya akan menghabiskan waktu di kamar untuk kegiatan yang tidak berarti.

“Apa! Sudah kubilang jangan menulis! Kau hanya menyia-nyiakan waktumu untuk hal yang tidak berarti! Kembali ke kamarmu dan belajarlah dengan baik!” kata-kata Kak Rama begitu menyakitiku, keluargaku sendiri tidak mendukung apa yang aku gemari. Jika saja ayahku masih hidup, mungkin perlakuan keluargaku tak akan seperti ini, ayahku selalu mendukung apa yang aku gemari selama itu baik dan tidak mengganggu waktu belajarku.

Kak Rama menarikku masuk ke kamarku, dia mengambil buku bersampul biru yang berisi kumpulan cerpen hasil karyaku, merobeknya dan membuangnya ke tempat sampah. Aku menangis, haruskah ia melakukan itu? Buku itu sangat berarti bagiku, itu benda terakhir tentang sahabatku.

Dengan air mata yang tak bisa kubendung, aku berlari meninggalkannya tanpa berpikir Kak Rama akan semakin marah kepadaku. Aku berlari meninggalkan rumah, berlari di jalanan desa yang berlubang menyebabkan aku sesekali terjatuh akibat jalanan yang tidak rata. Aku semakin menangis kencang dan tak lama hujan turun, rinainya semakin deras seiring langkahku yang semakin jauh pergi meninggalkan rumahku. Aku terus berlari dan berlari sambil menangis menumpahkan kesedihan hati.

Sebuah genangan tercipta di bawah kakiku,  kupandang pantulan samar wajahku  di sana. Wajah yang berlinang air mata bercampur rinai hujan, aku terlihat begitu menyedihkan. Mata merah, bengkak dan sembab juga air mata yang masih terus mengalir tak henti-hentinya.

Menulis sudah menjadi hobiku, itu satu hal yang bisa membuatku tidak memikirkan kata-kata dan perlakuan buruk yang dilakukan orang lain padaku. Aku senang bisa menulis dan aku berharap keluargaku mendukung kegemaranku.

Jika mereka tidak senang karena berpikir menulis hanya akan membuang sia-sia waktuku, akan kubuktikan menulis dapat membuatku sukses dan akan kubuat bangga keluargaku. Lewat karya- karya yang kutulis akan kubuat semua orang mengerti apa yang aku rasakan dalam hatiku selama ini.

Aku akan berbagi rasa dalam deretan kata yang membentuk sebuah cerita penuh makna, keluargaku akan kubuat bangga, teman-temanku akan mengerti kata yang selama ini tidak bisa terucapkan, sekarang aku akan menuangkan segala yang kurasakan dalam setiap cerita yang kuciptakan.

Aku sudah membuat keputusan! Aku akan terus menulis dan membuktikan tidak akan sia-sia waktu yang kuluangkan dalam kamar untuk menulis. Kuusap air mataku dan kuangkat wajahku menatap langit, rintik hujan langsung menyapa wajahku, kunikmati tiap tetes air yang jatuh membasahiku.

“Aku akan terus menulis, menjadi penulis, membuat karya yang menginspirasi, membuktikan pada semua. Aku bisa dan itu pasti!” Aku telah bertekad dan tidak akan menyerah, meraih mimpiku menjadi apa yang aku mau.

***

Gresik, 20 Juni 2021

Penulis : Emi Sukhrotun Nisa’ (seorang introvert yang gemar membaca dan menulis cerita)

You may also like...

1 Response

  1. Lailatul Ilmiyah says:

    Keren ceritanya 👏

Tinggalkan Komentar